Cryptocurrency dikenal dengan volatilitas harganya, di mana aset-aset besar seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) sering mengalami fluktuasi signifikan hanya dalam hitungan jam. Sebaliknya, aset keuangan tradisional, seperti saham, umumnya mengalami perubahan harga yang lebih kecil dalam periode yang lebih panjang. Karena volatilitas inilah, stablecoin diperkenalkan sebagai kategori cryptocurrency yang lebih dapat diprediksi.
Pada pelajaran ini, kita akan membahas apa itu stablecoin, bagaimana cara kerjanya, dan mana yang paling banyak digunakan.
Daftar Isi
- Apa Itu Stablecoin?
- Peran Stablecoin dalam Pasar Crypto
- Jenis-Jenis Stablecoin
- Stablecoin Populer
Apa Itu Stablecoin?
Stablecoin adalah jenis cryptocurrency yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang tetap, biasanya dengan cara dipatok (pegged) pada mata uang fiat. Stablecoin yang paling umum dipatok pada dolar AS, mengingat peran dominannya dalam keuangan global. Namun, ada juga beberapa stablecoin yang terikat pada mata uang lain, seperti Euro.
Berbeda dengan uang tradisional yang diterbitkan oleh bank sentral, stablecoin diciptakan oleh perusahaan swasta. Stablecoin pertama, Tether (USDT), diluncurkan pada tahun 2014 – lima tahun setelah Bitcoin diperkenalkan. Sebelum ada stablecoin, trader crypto harus menyimpan dana mereka dalam aset yang sangat volatil atau mencairkannya ke fiat, sebuah proses yang lambat dan menimbulkan biaya tambahan. Stablecoin memecahkan masalah ini dengan menawarkan cara untuk menyimpan crypto dalam bentuk yang stabil tanpa perlu mengonversinya ke mata uang tradisional.
Kini, trader dapat menggunakan stablecoin untuk mengamankan keuntungan mereka, memindahkan dana antar bursa secara efisien, atau menunggu kondisi pasar yang lebih baik sebelum berinvestasi kembali. Selain untuk trading, stablecoin juga digunakan dalam remitansi, decentralized finance (DeFi), dan pembayaran lintas negara berkat kecepatan dan biaya transaksinya yang lebih rendah dibandingkan sistem perbankan tradisional.
Peran Stablecoin dalam Pasar Crypto
Stablecoin memberikan perlindungan terhadap fluktuasi harga cryptocurrency tradisional. Alih-alih mengonversi aset ke fiat melalui bank, trader dapat dengan cepat memindahkan dana antara crypto dan stablecoin di bursa.
Stablecoin sangat berguna dalam berbagai kondisi pasar:
- Bull market: Saat harga sedang naik, trader dapat menggunakan stablecoin untuk trading cepat atau mengunci keuntungan.
- Bear market: Saat harga turun, stablecoin memungkinkan investor menghindari kerugian dengan sementara keluar dari aset yang volatil.
Secara keseluruhan, stablecoin membantu mengurangi risiko dan menyediakan likuiditas, menjadikannya penting bagi ekonomi crypto. Stablecoin juga berperan sebagai jembatan antara keuangan tradisional dan sistem berbasis blockchain, sehingga mempermudah adopsi aset crypto secara lebih luas.
Jenis-Jenis Stablecoin
Stablecoin dikategorikan berdasarkan bagaimana mereka mempertahankan nilainya. Tiga jenis utamanya adalah:
1. Stablecoin Berbasis Fiat (Fiat-Collateralized)
Stablecoin jenis ini didukung oleh cadangan mata uang tradisional. Perusahaan penerbit menyimpan jumlah uang fiat yang setara di rekening bank untuk menjaga rasio 1:1. Audit pihak ketiga memverifikasi cadangan ini untuk menjaga kepercayaan.
Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan menerbitkan 1 juta stablecoin yang didukung USD, perusahaan tersebut harus menyimpan $1 juta di rekening yang aman.
2. Stablecoin Berbasis Kripto (Crypto-Collateralized)
Alih-alih cadangan fiat, stablecoin jenis ini menggunakan cryptocurrency sebagai jaminan. Karena crypto bersifat volatil, stablecoin jenis ini biasanya over-collateralized, artinya jaminan yang dimiliki lebih besar daripada jumlah stablecoin yang beredar untuk menyerap fluktuasi harga.
Untuk mencegah ketidakstabilan harga, penerbit dapat menyuntikkan dana tambahan ketika fluktuasi pasar mengancam pegging stablecoin tersebut. Banyak stablecoin jenis ini beroperasi di platform DeFi, menggunakan smart contract untuk mengelola cadangan dan menjamin transparansi.
3. Stablecoin Algoritmik
Berbeda dengan dua jenis sebelumnya, stablecoin algoritmik mengandalkan penyesuaian supply berbasis perangkat lunak, bukan jaminan. Mereka menggunakan algoritma untuk secara otomatis menambah atau mengurangi jumlah koin yang beredar guna menstabilkan harga.
Meski inovatif, stablecoin algoritmik memiliki risiko lebih tinggi. Pada tahun 2022, keruntuhan TerraUSD (UST), sebuah stablecoin algoritmik besar, menyebabkan kerugian finansial yang masif ketika kehilangan pegging-nya terhadap dolar AS.
Stablecoin Populer
Berikut beberapa stablecoin paling terkenal di pasar:
- Tether (USDT): Diluncurkan pada 2014, USDT adalah stablecoin pertama dan tetap menjadi yang paling banyak digunakan. Stablecoin ini memungkinkan trader menghindari volatilitas harga crypto sambil tetap menyimpan dana dalam ekosistem aset digital.
- USD Coin (USDC): Diterbitkan oleh konsorsium Centre pada 2018, USDC sepenuhnya didukung oleh cadangan fiat dan diaudit secara rutin. Stablecoin ini banyak digunakan untuk trading dan pembayaran.
- Dai (DAI): Stablecoin terdesentralisasi yang dikelola oleh MakerDAO, menggunakan jaminan berbasis Ethereum untuk mempertahankan nilainya dan memungkinkan pengguna membuat Dai baru dengan menyetorkan aset ke dalam smart contract.
- TrueUSD (TUSD): Stablecoin berbasis fiat yang menawarkan audit on-chain secara real-time, sehingga siapa pun dapat memverifikasi bahwa cadangannya sesuai dengan total supply.
Stablecoin terus memainkan peran penting dalam ekonomi digital, memberikan stabilitas, likuiditas, dan efisiensi bagi trader maupun investor.
Kembali ke semua panduan